GRANTIKA PUJIANTO
Blitar, East Java. INDONESIA

I like Adventure, Enjoying the Beauty of Nature, Writing, Drinking Coffee, Photography, Cinematography and Code is my life | do not forget to smile |

Blog

Pendakian Gunung Budheg Tulungagung

By on May 4, 2018

Ada banyak pepatah yang selalu punya makna dan arti dari setiap katanya dan kini ada pepatah yang menurut saya cocok untuk memulai cerita saya yang satu ini

“Jangan pernah meremehkan suatu hal yang menurut pemikiran kita mudah karena apa yang kita fikirkan tak selalu sama dengan kenyataan” ya mungkin kutipan inilah yang terpatri dalam fikiran saya saat memulai menuliskan artikel ini.

Kali ini saya mau berbagi pengalaman saat Pendakian ke Gunung Budheg.

Gunung Budheg atau yang memiliki nama lain Gunung Cikrak, terletak di sisi selatan Kabupaten Tulungagung, tepatnya di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur. Memiliki ketinggian 585 mdpl, jika di lihat dari ketinggianya sih tidak seberapa dibandingkan dengan Gunung-gunung lain di Jawa Timur.

Meski tingginya tak seberapa namun jangan anggap remeh track untuk mendaki gunung ini, karena bisa dibilang cukup ekstrim dan pastinya menguras banyak tenaga, gunung yang terkenal mistis ini menawarkan keindahan alam yang sangat mengagumkan.

Asal muasal gunung budheg sendiri menjadi sebuah cerita rakyat dengan berbagai versi.

Ada beberapa cerita rakyat yang mengatakan bahwasanya gunung budheg berasal dari sebuah kisah, konon ada seorang anak yang di panggil panggil ibunya tapi tidak mendengar, kemudian setelah meninggalkan daerah tersebut bisa kembali mendengar. Karena keanehan itulah orang tersebut menyebut daerah itu dengan gunung budheg atau dalam bahasa Indonesia tidak mendengar (tuli).

Sedangkan menurut cerita para tetua di kabupaten Tulungagung, ada seorang jejaka bernama Joko Budeg yang keturunan orang biasa dan Roro Kembang Sore dari keluarga Ningrat. Joko Budeg sangat mendambakan Roro Kembang Sore menjadi pasangan hidupnya, karena Joko Budeg mencintai Roro Kembang sore dengan sepenuh hatinya. Tentu saja keinginan Joko Budeg yang berlebihan ini tidak mendapat tanggapan dari Roro Kembang Sore, karena dia berpendapat bahwa Joko Budeg bukanlah pasangan yang pantas untuk dirinya. Sebagai lelaki Joko Budeg tidak pernah surut akan keinginannya untuk mempersunting wanita idamannya, berbagai cara sudah dilakukan agar keinginannya bisa terwujud, lama kelamaan hati Roro Kembang Sore yang keras bagaikan batu luluh juga oleh keseriusan Joko Budeg mendekati dirinya, tetapi tentu saja keinginan ini tidak serta merta diterima begitu saja oleh Roro Kembang Sore, Roro Kembang Sore mau menerima lamaran Joko Budeg dengan persyaratan yang harus dipenuhi.

Roro Kembang Sore mau dipersunting oleh Joko Budeg asalkan Joko Budeg mau bertapa 40 hari 40 malam di sebuah bukit, beralaskan batu dan memakai tutup kepala “Cikrak” (alat untuk membuang sampah orang jawa khususnya di Tulungagung) sambil menghadap ke Lautan Kidul. Joko Budeg menerima persyaratan ini, dan melaksanakan apa yag diminta oleh Roro Kembang Sore.

Setelah waktu berlalu sesuai yang dijanjikan, Roro Kembang Sore berharap Joko Budeg datang untuk memenuhi janjinya. Setelah ditunggu 1 hari 1 malam, ternyata Joko Budeg tidak muncul juga, Roro Kembang Sore mulai cemas (karena sebenarnya di hatinya mulai tumbuh rasa cinta kepada Joko Budeg). Seketika itu juga Roro Kembang Sore mendatangi bukit yang digunakan untuk bertapa Joko Budeg. Sesampai disana masih Nampak Joko Budeg dengan khusyuknya bertapa, kasihan melihat keadaan itu, Roro Kembang Sore membangunkan Joko Budeg dari bertapanya, setelah cukup lama usaha Roro Kembang Sore untuk membangunkan Joko Budeg tidak membuahkan hasil, akhirnya Roro Kembang Sore jengkel, dan keluar kata-kata yang cukup keras “ditangekke kok mung jegideg wae, koyo watu” (bahasa Jawa Tulungagungan, dibangunkan kok tidak bangun-bangun, kayak batu) seketika itu terjadi keajaiban alam, Joko Budeg berubah wujudnya menjadi batu.

Saat ini bukit tempat Joko Budeg bertapa dikenal dengan nama “Gunung Budheg” dan patung Joko Budeg bertapa masih untuh sampai sekarang.

Roro Kembang Sore, dengan penyesalan yang dalam, kembali ke kediamannya dan bersumpah tidak akan menikah dengan orang lain selain Joko Budeg. Roro Kembang Sore akhirnya bertapa di satu tempat sampai meninggal dan dikuburkan di tepat itu. Saat ini tempat Pemakaman Kembang sore dikenal sebagai Pemakaman Gunung Bolo yang sangat terkenal (Di Kecamatan Kauman, Tulungagung).

Begitulah cerita masyarakat tentang sejarah asal usul kisah dan nama dari Gunung Budheg yang dipercaya oleh masyarakat Tulungagung sampai saat ini.

PENDAKIAN
Kemarin tepatnya tanggal 10 April 2018, saya melakukan Pendakian di salah satu gunung yang terletak di bagian selatan pulau Jawa tepatnya di Kabupaten Tulungagung. Oiya kali ini saya mendaki dengan satu sahabat saya dari Sumatera yaitu M. Ali Wafa, kebetulan kita sama-sama punya hobi fotografi dan cinematography, Wafa sudah lama tinggal di Blitar, tapi sebentar lagi mau kembali ke Sumatera ada urusan keluarga katanya, atau ada urusan lebih dari sekedar keluarga, dengar-dengar mau menjadi guru/ ustadz di Madrasah yang baru di dirikan di Sumatera sana, ya semoga saja bisa menjadi tauladan yang baik dan membawa bangsa ini lebih baik lagi.

Gunung Budheg memiliki ketinggian 585 mdpl berada di Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.

Nah kini saatnya saya berbagi pengalaman menarik Saat Pendakian ke Gunung Budheg.

Kami mulai berangkat dari Blitar sekitar pukul 11 malam dan sampai di parkiran pukul setengah 1 pagi dini hari, kalau dari pusat kota Tulungagung kita mengambil arah menuju perempatan Titik Nol KM atau kalau dulu namanya perempatan TT, kemudian lurus ke selatan sampai di perempatan Tamanan dan terus masih lurus menuju Perempatan Pasar Burung Beji, dari perempatan pasar burung tersebut, kita masih lurus sampai menemukan perempatan traffic light dan itu adalah Perempatan Pasar Boyolangu, dari perempatan tersebut, kita masih lanjut lurus ke selatan sampai kurang lebih 500 meter, selanjutnya kita akan ketemu dengan SPBU di sebelah kanan jalan lurus sampai kurang lebih 50 meter terdapat jalan ke kiri, kita masuk lewat jalan tersebut dan lurus saja kurang lebih 200 meter dari jalan masuk tersebut bertemulah kita dengan tulisan “Tempat Parkir Gunung Budheg” disitulah akhir dari perjalanan menggunakan kendaraan dan selanjutnya dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Perlu di ketahui Pendakian Gunung Budheg bisa dilakukan dari dua jalur pendakian yaitu Jalur utara dan jalur barat. Jalur pendakian Utara melalui rumah Bapak Trimo yang sekaligus Juru Kunci Goa Tritis yang berada di Gunung budheg. Di rumah Bapak Trimo sudah disediakan parkir tepat di rumahnya. Jalur Pendakian Barat melalui pos jaga yang di kelola oleh Bapak Agus sekaligus penggiat penghijauan di Gunung Budheg. Untuk Parkir di Jalur Pendakian Barat sudah ada lokasi yang disediakan oleh penduduk sekitar.

Pendakian Gunung Budheg Jalur Utara seperti yang sudah disinggung di atas melalui kediaman Bapak Trimo atau Juru Kunci Goa Tritis yang orangnya ramah dan santai sekaligus penjaga pintu pendakian gunung budheg jalur utara.

Berhubung kita berangkat malam, kita sempet kesasar tadinya, soalnya sudah tengah malam dan nggak ada orang sama sekali, akhirnya kita kembali lagi dan menemukan tempat parkir serta petunjuk arah menuju Puncak, karena suasananya sepi dan nggak ada orang sama sekali, saya istirahat di terasnya Bapak Trimo, kita sampai sekitar pukul 1 dan teman saya si Wafa udah ngantuk katanya, dan ternyata belum ada 5 menit dia sudah tidur pulas di pinggir jalan, sampai jam setengah 3 dini hari barulah Pak Trimo membuka pintu, dan kita sempet bincang-bincang sebentar sembari siapin bekal dan tenaga untuk mendaki (di tempat ini tersedia berbagai makanan ringan dan minuman, bahkan saya sempat minta tolong direbusin air panas buat ngisi thermos saya yang kosong). Setelah kita parkir motor dan registrasi (kita berdua sama parkirnya sekalian di kenakan administrasi Rp.15.000,-), setelah itu di rumah Pak Trimo motor kami tempatkan dengan rapi sambil ngobrol-ngobrol serta menyiapkan kamera untuk memotret apa saja yang ada di Jalur Utara Gunung Budheg ini dan kita sudah senyum-senyum nih untuk mulai pendakian.

Selesai berbincang-bincang santai kita memutuskan berangkat pagi dini hari sekitar jam 3, dengan melewati jalan paving yang terlihat masih baru dan bersih membuat langkah kami semangat untuk terus naik ke atas, kami berharap bisa sampai puncak sebelum matahari terbit. Ada beberapa tempat berteduh di jalur utara ini. Suasan Jalur Utara sungguh berbeda ketika kemarau dengan musim penghujan, sungguh lebat dengan suasana hijaunya, sepanjang perjalanan terus menanjak hanya dengan ditemani tali sepanjang jalur tersebut yang bikin jengkel lagi kita nggak bawa lampu /headlamp karena ketinggalan di motor, mau balik lagi udah jauh, soalnya sepanjang jalan yang kita lewati sudah ada lampu peneranganya, tetapi saat perjalanan mulai jauh baru terasa kalau jalanya mulai gelap karena penerangan yang ada tidak merata, hingga sampailah kita di pos pertama dan kita memutuskan untuk istirahat sejenak dan kami berdua merasakan kantuk yang luar biasa tak tertahankan dan berakhirlah kita di pos ini untuk memejamkan mata hingga kami bangun sudah pukul 9 pagi (gagal sudah rencana kita melihat sunres), sumpah ini hutan masih Asri dan sejuk, mungkin karena di depan pos tempat kami istirahat ada sungai dengan suara air mengalir membuat fikiran kita jadi tenang dan damai, setelah itu kita sarapan roti kering (bukan roti basah) bekal dari rumah lalu lanjut ke perjalanan lagi untuk dihadapkan ke track hiking yang sangat luar biasa serta membuat dada berdegup kencang ( ngos-ngosan) karena jalur pendakian di gunung ini benar-benar berbeda dengan jalur pendakian gunung-gunung lain, yaitu full hiking tanpa ada rest area secuilpun!! Jadi dari awal pendakian, kita akan terus mendaki, mendaki, dan mendaki.

kita melanjutkan mendaki dari pos ini pukul 09.15 dari peristirahatan pertama, dan sampai di puncak pada pukul 10.20 WIB. Bawalah minum yang cukup minimal satu orang 2 botol, soalnya kemarin kita sampai atas kehabisan minum sebelum turun, untung saja Pak Trimo baik hati, jadi ketika kita turun ketemu ni sama beberapa anak kecil yang mendaki juga dan memberi kami satu botol besar air mineral, katanya titipan dari Pak Trimo, Alhamdulillah!

Saat malam di puncak Gunung Budheg, kita bisa melihat langsung kota Tulungagung dengan gemerlapan cahaya lampu yang benar-benar memukau, padahal kita nggak di puncak sampai malam, tapi saya yakin dan bisa bayangkan betapa indahnya kalau malam hari di sana (karena paginya kita sudah melihat sendiri dari lereng gunung), selain itu kita juga ketemu tu sama segerombolan monyet yang masih liar, kita juga sempet mengabadikan moment ini dengan foto maupun video, kebetulan kita sama-sama punya hobi fotografi dan cinematography. Oh iya, untuk sholat di puncak ternyata sudah ada tempat khusus yang cukup luas, bahkan ada tower internet juga kalau nggak salah.

Di puncak gunung budeg ini banyak sekali yang bisa anda lakukan, dari sekedar bersantai, anda bisa melihat kawasan hutan yang hijau, jika beruntung anda bisa mendapati beberapa orang pecinta lingkungan hidup yang melakukan program penaman pohon. Sekarang area di puncak gunung budheg ini sudah di fasilitasi dengan penerangan dan juga jaringan Internet. Jadi kalau anda ingin bermalam di sini sangat menyenangkan.

Soal keindahan puncak gunung budeg ini tidak usah di ragukan lagi, dari atas puncak, terlihat pemandangan khas pedesaan yang hijau, dimana seperti wilayah tulungagung akan terlihat.

Maka itulah banyak para pendaki setelah berada di puncak gunung budheg melakukan selebrasi untuk meluapkan kegembiraannya, satu hal yang sering di lakukan mereka adalah mengibarkan bendera merah putih.

Bahkan upaya pengenalan gunung budheg untuk menjadi tempat wisata sering di galakan. Selain dari berbagai kegiatan pendakian, pramuka dan penanaman pohon. Pada tanggal 20 April 2017 kemarin, gunung budheg ini di jadikan transit para peserta turis mancanegara dalam program World Rainbow Gathering (pada waktu itu saya juga sempat mengantar beberapa turis manca Negara yang sebelumnya berada di blitar sebelum menuju ke tulungagung), ini adalah sebuah program pengenalan pariwisata tulungagung kepada dunia yang di pusatkan di pantai ngalur jengglong harjo, tanggung gunung, tulungagung.

Selain itu upaya lainnya untuk mengenalkan gunung budheg adalah sebuah tayangan televisi yang bertema “My Trip My Adventure episode Gunung Budheg” Sejak saat itulah Gunung Budheg banyak di datangi para Wisatawan dari seluruh daerah sekitar Tulungagung, termasuk Saya yang datang dari Blitar.

Tibalah saat sore hari yang sudah kita tunggu-tunggu untuk mendapatkan sunset, e la dalah malah gerimis, hingga pukul lima sore masih belum reda dan sunset nggak kelihatan, akhirnya kita memutuskan untuk turun, apesnya lagi sudah turun sampai di goa hujan sudah reda dan pemandangan dari tebing goa ini sungguh indah bro, tapi sayang sekali kita nggak bisa mengabadikannya karena kamera kita taruh di dalam carier udah males mau keluarin. (jadi nanti kalian pasti akan melewati goa yang lumayan lebar dan cocok buat berteduh, ya cukuplah kalau untuk 3-5 orang) ketika mendaki lewat jalur utara Gunung Budheg.

Itulah sedikit gambaran tentang Gunung Budheg Tulungagung yang bisa saya uraian. Sebenarnya tulisan ini hanya sedikit menggambarkan informasi Dan keindahan tentang Gunung Budheg. Jangan lupa kritik dan saranya dengan meninggalkan komentar positif dan membangun, agar saya bisa explore tempat-tempat menarik lainya, oiya jangan lupa juga kunjungi chanel youtube saya ya? Terimakasih.

 

Wassalamu’alaikum Wr Wb…

 

 

Blitar, 4 Mei 2018

 

Grantika Pujianto

TAGS
RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT