GRANTIKA PUJIANTO
Blitar, East Java. INDONESIA

I like Adventure, Enjoying the Beauty of Nature, Writing, Drinking Coffee, Photography, Cinematography and Code is my life | do not forget to smile |

Blog

Pendakian Gunung Wilis Lewat Candi Penampihan Tulungagung

By on May 5, 2018

Menurutku petualangan adalah gaya hidup, dengan berpetualang aku bisa menemukan teman baru, tempat baru, pengalaman baru dan berbagai hal terbaru yang belum pernah aku temui sebelumnya. Pada hari itu Sabtu, 14 April 2018 Saya akan menginjakkan kaki di puncak Wilis bersama teman-teman penikmat Alam dari Blitar yaitu Laksono Wibowo, Saiful Fuad, Devit Suna Pranata, Nur Huda, Jefry Fendy Saputra, Anis Dwi dan Angga Putra.

Sebenarnya sudah lama saya ingin mendaki Gunung Wilis ini, Dari kampung halaman saya di Blitar Gunung Wilis terlihat begitu Gagah menjulang tinggi membelah enam kabupaten yaitu Trenggalek, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Madiun dan Kabupaten Ponorogo. Selain itu yang membuat Gunung Wilis begitu istimewa karena puncaknya yang banyak, Bahkan ada salah satu puncak di Wilis yang sangat jarang atau bahkan belum pernah di daki dan terjamah oleh pendaki karena medanya yang sulit serta berbahaya untuk menuju kesana.

Jika anda di Kota Kediri dan sedang berada di daerah kali berantas, Gunung Wilis akan terlihat sangat dekat sekali. Ada beberapa jalur untuk mendaki Gunung Wilis, yaitu bisa lewat Daerah Mojo Besuki, sedangkan dari jalur Utara bisa lewat Bajulan di lanjut Air Terjun Roro Kuning. Tapi untuk kali ini Kami memilih lewat jalur selatan yaitu via Candi Penampihan Kecamatan Sendang Tulungagung, karna jalurnya lebih menantang dan masih bener-bener alami. Kali ini saya mendaki dengan tujuh sahabat yang sebagian dari mereka baru saya kenal tetapi mereka semuanya dari Blitar, sebenarnya pendakian ini tidak saya rencanakan sebelumnya, padahal masih kemarin saya baru dari Puncak Budheg, jadi tenaga sudah cukup terkuras, Dari awal mereka memang sudah memutuskan untuk lewat jalur selatan yang memang terkenal masih lebat dan extreme jalurnya, ini adalah pertama kalinya saya mendaki Gunung Wilis, mendengar kabar kalau teman-teman dari Penikmat Alam Blitar mau mendaki ke Gunung Wilis, saya langsung memutuskan untuk ikutan gabung dengan rombongan mereka, tentu dengan berbagai pertimbangan dan tidak mau ambil resiko tersesat atau gimana mengingat lebatnya hutan Wilis.

Kami berangkat dari Blitar sekitar pukul setengah sebelas pagi dan sampai di parkiran jam setengah satu siang, perjalanan kami dari Blitar ke tempat Parkiran sekitar dua jam.

Setiba di Candi Penapihan, kami istirahat sejenak, sambil mengecek kembali persediaan logistik dan sekalian membeli makanan untuk mengganjal perut yang dari tadi pagi belum kemasukan nasi sama sekali, di sini ada warung dan menjadi tempat parkir juga, kebetulan yang punya juga Pak RT, tapi Sayang warungnya cuma jualan Bakso dan gorengan, akhirnya salah satu teman saya Laksono Wibowo beli tahu goreng dan kita makan bareng2 itu tahu, ya lumayan lah daripada nggak keisi sama sekali ni perut, sebenarnya kita bawa nasi dari rumah tapi buat persediaan makan sesampainya di puncak nanti (pengalaman dari pendakian sebelumnya, kalau sudah sampai puncak capek mau masak sudah males, jadi kita bawa bekal dari rumah). Setelah kami cek kembali logistik khususnya air sudah mencukupi, karena di atas tidak ada sumber air dan kini semuanya sudah masuk dalam carier dan kini kami siap melaju menuju puncak Wilis yang luar biasa track dan di sepanjang perjalanan banyak sekali ditemukan pacet.

Kami berjalanan dengan santai sambil menikmati segarnya alam di hutan wilis dan tibalah kita di tempat yang kita tunggu-tunggu yaitu watu godeg, sampai watu godeg kita istirahat dan sempat berkabut serta turun hujan, akhirnya kita berteduh dan memasak air untuk membuat kopi, lama juga kita di watu Godeg sekitar satu jam, kami juga sempet berfoto-foto senjenak sambil mencari cari pacet siapa tau ada yang nempel di tubuh, setelah puas berfoto-foto dan ambil video kita melanjutkan perjalan.

Dari watu Godeg sekitar pukul lima sore kami melanjutkan perjalanan dan sore pun berganti malam, hingga kita bertemu dengan hutan mati yang kami kira ini sudah dekat dengan puncak atau bahkan puncaknya Gunung Wilis.

Kami beristirahat hampir satu jam disini dan ternyata kita masih belum sampai di puncak, kita masih harus melewati hutan lebat, jurang dan ilalang setinggi dua meteran, perjalanan kami bisa di bilang menguras banyak energi dan tenaga apa lagi jalur yang kita lewati sangatlah licin dan terjal, kita naik gunung seperti naik tangga, medanya yang masih alami bahkan terlihat sekali jarang ada pendaki yang lewat sini, kami terpaksa membuka jalur sendiri untuk mencapai puncak dengan melewatai ilalang setinggi dua meteran, kami melewati ilalang ini dengan jarak sekitar 200 meteran dengan jalur yang cukup landai tapi iya itu tadi harus membuka jalan sendiri dan jarak pandang kita cukup dekat karena berkabut. Setelah berjalan menerobos ilalang sekitar 25 menitan akhirnya kita sampai juga di Puncak Gunung Wilis, Gunung Wilis merupakan Gunung yang tidak aktif dengan ketinggian 2565 mdpl di Tulungagung Jawa Timur.

Alhamdulillah akhirnya kita sampai juga di puncak Wilis, segeralah kita mendirikan tenda dan membersihkan badan, lalu masak air untuk membuat kopi dan makan bekal yang kita bawa dari bawah tadi, karena udara yang sangat dingin dan berkabut kita langsung berangkat tidur.

Untuk mendaki di Puncak Wilis ini tidak ada yang namanya pos Pendakian ( base camp ) pos penjaga. Selain itu air juga susah didapat jadi sebaiknya sediakan air dari awal perjalanan yang lebih dari cukup, oiya perlu diingat juga bahwa di gunung ini banyak hewan penghisap darah (pacet) di sepanjang jalur sampai puncak. Dalam setiap perjalanannya ke Puncak banyak juga ditemui tanaman alami khas pegunungan seperti suplir, Anggrek, namun kita tidak pernah menemui bunga edelwise.

Malam itu suasana hening dan hanya ada suara semilir angin, beberapa saat kemudian datang rombongan anak sma/smk dari Tulungagung yang juga ngecamp di puncak, malam semakin larut dan kita semua terlelap tidur.

Bro tangi tangi bro (kataku dengan bahasa jawa, bangun bro bangun bro) pagi dini hari sekitar jam 2 hujan lebat di sertai badai menghampiri kami dan tenda kamipun di banjiri oleh genangan air, beberapa teman saya ada yang keluar benahin cover tenda, membuat jalan air dan saya sendiri di dalam tenda menguras genangan air itu, sekitar 20 menitan akhirnya hujan mulai reda dan kami melanjudkan untuk tidur.

Pagi itu jam setengah 6 kita terbangun dan melihat keadaan sekitar masih di penuhi dengan kabut dan hujan gerimis, kami memasak serta bersantai sambil berbincang bincang ngalor ngidul nggak jelas, jika kalian beruntung akan menemukan beberapa monyet dan hewan liar lainya. Untuk teman-teman yang penasaran dengan aktifitas kami di Gunung Wilis bisa lihat videonya di chanel youtube saya dengan judul Pendakian Gunung Wilis 2018 lewat Candi Penampihan, jangan lupa like, tinggalka pesan dan subscribe ya agar saya lebih bersemangat lagi untuk explore keindahan Alam Negeri ini.

Dan kini hari sudah siang, sekitar Pukul 1 kami akhirnya turun dengan hanya memakan waktu kurang lebih dua jam, kami turun hampir tidak istirahat karena yang kami fikirkan segera sampai di bawah dan menikmati bakso dan juga es degan, he he he. Setelah sampai di parkiran kita akhirnya bisa menikmati bakso yang ada di warung Pak RT, oiya kami mendaki hanya registrasi saja tanpa di kenakan biaya administrasi dan di parkiranpun kita hanya memberikan uang parkir seihklasnya.

Di pesisir Gunung Wilis ini juga terkenal daerah penghasil susu sapi, sayuran Gubis, tomat, cabe. Gunung Wilis ini saya katakan alami ‘Perawan’ karena pada dasarnya lokasinya yang jauh dari pusat kota dan keramaian apalagi akses ke lokasi dengan kendaraan umum juga lumayan sulit didapatkan sehingga jarang dijamah tangan pendaki yang usil.

Jalur via candi Penapihan Tulungagung merupakan jalur favorit masyarakat Tulungagung dan sekitarnya. Jalur ini memakan waktu sekitar 5 sampai 8 jam untuk bisa sampai di Puncak Wilis, tergantung cuacanya juga, kemarin kita sampai puncak pukul 8 malam jadi perjalanan kita jika berangkat jam 1 siang memakan waktu kurang lebih tujuh jam, itupun kita santai dan banyak istirahatnya.

Sekian cerita petualangan saya kali ini, semoga artikel/ blog saya ini bermanfaat dan bisa menjadi referensi teman-teman dari para petualang dan penikmat alam, jangan lupa jaga kelestarian Alam untuk warisan anak cucu kita nanti, Salam Lestari dan terimakasih.

 

Wassallamu’allaikum Wr Wb…
 

Blitar, 5 Mei 2018

 

Grantika Pujianto

TAGS
RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT