GRANTIKA PUJIANTO
Blitar, East Java. INDONESIA

I like Adventure, Enjoying the Beauty of Nature, Writing, Drinking Coffee, Photography, Cinematography and Code is my life | do not forget to smile |

Blog

Pendakian Gunung Butak (Memperingati Hari Bumi 2018) lewat Sirah Kencong Blitar

By on May 8, 2018

Hari ini,  21 April 2018 saya bersama M.  Ali Wafa (sahabat saya dari Sumatera yang saya ajak mendaki Gunung Budheg seminggu yang lalu) di tambah dua teman yang baru kita kenal yaitu Hevi Palupi dan M.  Fajri Mubarak (mereka semua dari Blitar),  Pendakian kali ini sedikit berbeda karena bertepatan dengan hari Bumi dan Hari Kartini 2018.

Perjalanan saya mulai pukul 1 siang karena kita mendaki di hari jum’at,  saya janjian sama wafa di tempat kos saya sedangkan hevi dan fajri menunggu kita di rumah temanya yang ada di wlingi, tepat jam satu saya berangkat naik motor menuju ke wlingi,  tapi sampai Garum kita teringat kalau ada yang ketinggalan yaitu tenda, padahal bawaan kita udah berat banget,  hedeehh, ada ada saja. ..

Wafa memutuskan kembali ke kosan saya untuk mengambil tenda dan saya melanjutkan perjalanan dengan naik bis menuju wlingi membawa perlengkapan yang kita bawa dari awal tadi karena kalau naik motor berat serta mengganggu sekali,  setiba di pendopo Wlingi saya di jemput sama Fajri untuk menuju tempat mereka berkumpul yaitu di rumah temanya tadi (saya lupa namanya), setelah 20 menitan kita bersantai sambil ngobrol-ngobrol wafa datang dan bergabung dengan kita,  kita juga sempat di suguhi makan siang dan camilan termasuk semangka yang masih segar hingga kita larut dalam suasana obrolan yang asyik,  nggak terasa sudah hampir 1 jam kita ngobrol-ngobrol, tepat pukul setengah 4 sore kita berangkat menuju sirah kencong,  sampai sirah kencong kurang lebih satu jam perjalanan dari wlingi menuju sirah kencong.

 

Tepat jam 16.20 kita sampai di Sirah kencong dan langsung registrasi (kita berempat di kenakan biaya administrasi 20rb sudah termasuk motor, jadi masing masing anak dikenakan 5rb)  informasi yang kami dapat dari penjaga katanya motor bisa naik sampai wukir negoro,  wah enak ni kalau gitu,  kita bisa menghemat tenaga dan waktu, akhirnya kita memutuskan untuk naik motor dan ternyata jauh dari yang kita bayangkan,  jalanya kurang bersahabat dan sangat licin,  jadi jalanya ini makadam dengan batu yang lumayan gede, saya memutuskan untuk bergantian dengan wafa naik motor, sedangkan fajri dan hevi lanjud terus karena sepedah yang di pakai sangat memungkinkan untuk melewati jalan ini,  tapi ada yang bikin kita senang,  yaitu di sepanjang perjalanan pemandangan sangatlah indah oiya sirah kencong adalah perkebunan teh jadi sepanjang perjalanan kita akan melewati perkebunan ini, kalian bisa bayangkan bagaimana indah dan sejuknya perkebunan ini,  apa lagi kita berangkat di sore hari di temani dengan sunset yang sangat menawan,  jadi selain perkebunan dan dinginya udara kita di sambut oleh indahnya sunset di perkebunan teh ini,  nggak terasa sudah satu jam lebih perjalanan kita,  agak lama karena kita lebih banyak berhenti untuk mengabadikan gambar dan membuat video, tepat pukul 17.50 kita sampai di wukir negoro dan memutuskan untuk mengakhiri perjalanan dan bermalam atau ngecamp di sini.

Di Wukir Negoro kita memasak mie rebus dan air untuk membuat kopi,  mejelang isyak kita kedatangan tamu dari rombongan IAIN Tulungagung dan UNISBA blitar yang juga mendaki ke Butak, mereka sempat berseru dan kami menyambutnya dengan sepenuh hati disertai  salam untuk memberikan semangat,  kita juga memberikan beberapa makanan yang sudah kita masak,  setelah makan bersama dan sempet ngobrol beberapa menit akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan menginap di pos 1, kami menghabiskan banyak waktu dengan berfoto-foto karena pemandangan malam hari di sini sangatlah indah jadi rugi kalau tidak diabadikan.

Suara burung berkicau saling sahut sahutan dan berlomba lomba mengeluarkan suara merdunya menyambut pagi ini di wukir negoro, kami terbangun dari tidur nyenyak di ketinggian lebih dari 1000mdpl,  pagi itu udara sangat sejuk tapi sunres keluar agak terlambat karena terhalang oleh gagahnya gunung butak yang akan segera kami taklukkan hari ini,  setelah memasak dan sarapan pagi kami masih sempet mengabadikan moment indah ini dan bercanda tawa sambil bercerita hal yang tak penting,  he he he

Tepat pukul 9 pagi kami berangkat mendaki, seperti biasa kami selalu mengadakan ritual sebelum memulai aktifitas,  yaitu berdoa kepada sang Pencipta,  perjalanan kami begitu menyenangkan dan penuh canda tawa,  kami berjalan dengan santai dan tak terasa jam menunjukan pukul 5 sore kita sudah sampai di puncak Gunung Butak, rasa capek langsung hilang dan saya langsung bergegas naik ke atas puncak untuk menggapai Merah Putih yang berkibar dengan gagahnya, sore ini udara sangat dingin dan kita berbagi tugas untuk mempersiapkan bermalam kita,  hevi, wafa dan fajri mendirikan tenda dan saya memasak, selang beberapa menit banyak rombongan yang baru datang,  ternyata mereka sudah sampai di padang savana sebelumnya dan mendirikan tenda di sana, dan ternyata cuma kita yang mendirikan tenda di puncak, kami memang memilih mendirikan di puncak tepatnya di lereng sebelah barat daya,  sepertinya ini pertama kalinya dipakai untuk mendirikan tenda,  karena masih banyak ilalang dan kita mulai meratakanya,  karena capek malam itu kita langsung istiraat untuk menyimpan energi.

Menjelang pagi pukul setengah lima saya bangun dan terlihat teman-teman saya hevi dan wafa masih terlelap tidur dan fajri sudah berada di luar baru saja menunaikan Ibadah Sholat Subuh, saya pun keluar sekaligus membawa perlengkapan tempur saya seperti kamera dan tripod, oh Tuhan dingin sekali, saya nggak bawa jaket juga,  wah rasanya seperti begu sahabat Pengembara, tapi niat dan tekat saya sudah bulat untuk mengabadikan moment sunres yang selalu di tunggu-tunggu setiap pendaki,  pagi itu masih ada saya sendiri dan tripod dengan gagahnya saya taruh di posisi yang menurut saya tepat beserta sahabat mini saya (xiaomy yi 2) yang tak pernah pisah dari saya untuk membuat timelapse, selang beberapa waktu mulai banyak yang berdatangan bahkan saya nggak mengira kalau sampai sebanyak ini,  ternyata ada lebih 50 tenda yang berdiri di padang savana,  mungkin karena bertepatan dengan hari kartini dan hari bumi pendakian kali ini sangat rame,  eh tapi saya agak kecewa dari 13 orang atau kelompok yang saya tanya mereka tidak ada yang tau kalau hari ini adalah hari bumi,  sedikit kecewa juga saya sebenarnya.

Selain dari pendaki lokal juga ada pendaki yang dari luar negeri yaitu Amerika,  Jerman dan Australia,  kami sempet ngobrol sedikit tentang keindahan alam Indonesia, bahkan mereka jatuh cinta dengan Indonesia,  dan Indonesia menjadi kunjungan rutin tiap tahun bagi mereka ucapnya.

Waktu terus berganti dan saya menemukan banyak sekali teman baru dari petualangan ini, banyak hal baru yang aku temukan,  bahkan aku lebih mengenal alam ini dari sekedar suka menjadi cinta.  Inilah negeri yang Penuh dengan Keajaiban,  Cakrawala membentang luas sehingga pandangan tak terhalang oleh apapun. Kita dari atas puncak Butak dapat melihan kota-kota yang gemerlap indah di malam hari dan pada saat pagi menjelang siang,  sunres begitu menawanya melukis keindahan cakrawala,  gunung-gunung menjulang gagah di depan kita,  mulai dari gunung kelud,  wilis,  bromo, Arjuna,  Welirang, Penanggungan dan keindahan langit yang berada di bawah kaki gunung menjadikan petualangan ini lebih sempurna.

Setelah puas dengan apa yang kita nikamati di atas Puncak Butak,  kami berbagi tugas lagi,  saya memasak dan hevi,  wafa, fajri turun ke padang savana untuk mencari air,  pagi itu kami sarapan dengan nasi bercampur sub,  mie rebus dan sarden yang di bawa fajri,  rasanya nikmat sekali, inilah yang namanya petualangan dan kebersamaan. Oiya ada satu teman lagi yang ikut kita sarapan yaitu Ria,  pendaki dari IAIN tulungagung yang kemarin sempet ketemu di Wukir Negoro,  bahkan kita menjadi teman sampai saat ini, ada lagi teman dari sumatera tetangganya wafa, malang,  pasuruan,  sidoarjo dan masih banyak lagi, karena masakan kami cukup banyak akhirnya kita bagi-bagikan ke mereka,  Alhamdulillah kita dapat berbagi lagi dengan sesama.

Akhirnya selesai sudah sarapan kita hari ini,  sesuai dengan rencana awal,  kita akan melakukan penanaman buah anggur di puncak sebagai wujud kepedulian kami menyambut hari bumi, selain kami berempat ada teman-teman dari IAIN dan Pasuruan yang bergabung untuk melakukan penanaman ini,  kebetulan saya bawa bibitnya lumayan banyak,  masih belum selesai di sini kami juga meminta statment kepada beberapa pendaki untuk menyuarakan kepedulianya dengan bumi.

Hari menjelang siang,  tepat jam 1 siang kami memutuskan untuk turun sambil menyapu bersih kotoran yang ada di sekitar kami, kotoran yang di bawa mereka pendaki yang kurang baik untuk di contoh (maaf kalau ada yang tersinggung) dari karung sampah besar yang kami bawa ternyata terisi penuh hingga melebihi batas dari tas carier yang kita bawa. Saya,  Wafa dan Fajri bergantian membawa sampah itu untuk di bawa turun,  dan akhir dari perjalanan kami pada pukul 6 sore kita sampai di wukir negoro,  Alhamdulillah akhirnya kita naik dan turun dengan selamat,  dan malam itu Hevi yang baru saja sidang skripsi mentraktir kami makan mie ayam,  ehem,  Alhamdulillah…

Untuk sahabat pengembara yang pengen tau keseruan kita dalam pendakian ini bisa lihat di chanel youtube saya dengan judul Pendakian Gunung Butak (hari bumi 2018) lewat Sirah Kencong Blitar.

Sekian cerita dari saya,  semoga bermanfaat dan jangan lupa tinggalkan pesan kritik,  saran dan juga masukanya untuk saya supaya lebih semangat lagi mengeksplore Alam Negeri Indonesia tercinta ini, terimakasih.

 

Wassallamu’allaikum Wr Wb…

 

 

Blitar, 8 mei 2018

 

Grantika Pujianto

TAGS
RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT